Dijuluki Pegiat Seni, Syalma Kuasai Macam-macam Tarian

Syalma saat mementaskan Tari Sripanganti dalam suatu acara. (Foto: dok)

Temanggung (wartajateng.id) – Ketika para pegiat seni mengeluh di tengah aturan pandemi yang menanggalkan job pentas mereka. Namun, berbeda cerita dengan gadis asal Temanggung, Syalma, yang justru ingin memulai karirnya lagi di tahun ini.

“Pandemi bukan jadi penghalang untuk terus menari karena menari gak harus berkelompok, menari yang diperlukan hanya mengolah wirama, wirasa dan wiraga,” ujarnya, Senin (28/9/2020).

Hanya saja, lanjut Syalma. menghambat apa yang sudah direncanakan.

“Menghambat penghasilan bagi penggiat tari di luar sana yang menjadikan tari sebagai pemenuh kebutuhan,” imbuhnya.

Sejak tahun 2016 Syalma sendiri sudah membuka les tari di rumahnya dan memiliki puluhan anak didik dengan bayaran suka rela. Namun sayang, suatu hari saat perjalanan menuju Semarang untuk kuliah tak disangka terkena musibah yang menyebabkan kakinya terkilir pada tahun 2018.

“Terpaksa vakum setelah kejadian itu, hari Sabtu yang biasanya pulang jadwal ngelesi juga digunakan untuk istirahat di kos,” terangnya.

Terlahir sebagai penari nampaknya tak muluk jika disematkan pada gadis yang memiliki nama lengkap Syalma Arofah Ibni Gunawan.

Pada usia belasan beberapa jenis tari sudah ia kuasai. Seperti Tari Merak, Gembira, Kelinci, Manipuren, Bondan Kendi, Soyong, Rampak, Semarangan, Warak. Dugder, Topeng Edan, Kukila, dan Kupu-kupu,

“Pernah juga menggarap tari Sendratari Dewa Ruci, terus Tari Sengketa (menceritakan kisah tentang petani),” imbuhnya.

Meski enggan dijuluki sebagai pegiat seni namun sejak usia dini ia sudah pandai menari.

“Aku dari kecil sudah menari terus, nyanyi juga, dulu sering diminta buat pentas, di balai desa atau acara karang taruna usia TK hingga kelas 3 SD,” katanya.

Selain itu, Syalma juga mengaku, sejak kecil sudah hafal lagu-lagu klasik seperti Langgam Jawa dan Campur Sari.

Bagi Syalma, alasan hobi yang membuatnya ingin membuka les tari lagi di akhir tahun ini yang bertempat di kediamannya Dusun Tuksongo, Desa Nglorog, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perempuan yang kini berusia 22 tahun itu enggan memberi nama tempat les tarinya.

Sebelum pamit, ia juga membagikan sedikit materi awal yang biasa ia ajarkan, dari mengolah raga posisi seorang penari ketika menari itu bagaimana.

Menurutnya posisi ini ditentukan dari jenis tarian, karena tari dari tiap daerah memiliki ciri masing-masing.

Misalnya, tari Jogja posisi penari itu harus mendak, Solo juga sama, cuma posisi mendaknya di tari Solo badan dicondongkan sedikit ke depan sedangkan untuk tari Jogja tegap, dada dibidangkan.

“Posisi mendak itu posisi merendah, serendah-rendahnya. Kalau mendaknya sudah bagus, narinya akan luwes,” terangnya.

Setelah itu, murid diajarkan gerakan sedikit-sedikit tanpa musik dengan hitungan 1 sampai 8 diulang-ulang sampai hapal, apabila sudah hafal baru pakai musik. Jika sudah pas dengan musiknya baru olah rasa.

“Kapan harus senyum, lirikan mata harus mengikuti gerakan tangan,” pungkasnya. (Zaidi-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: