IDI Semarang Ingatkan Masyarakat Tetap Patuhi Prokes

Ketua IDI Kota Semarang, dr. Elang Sumambar. (Foto: Majid)

Semarang (wartajateng.id) – Pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia telah berlangsung satu tahun. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan laju virus yang pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020 tahun lalu.

Saat ini, pemerintah tengah fokus pada upaya vaksinasi yang ditargetkan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Percepatan vaksinasi terus digaungkan secara merata di seluruh Indonesia.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang dr. Elang Sumambar mengingatkan kepada pemerintah dan masyarakat untuk tidak kendor menerapkan 3T (Tracing, Test, Treatment) dan patuh pada protokol kesehatan. Menurutnya, Gerakan 3T dan protokol kesehatan tetap harus masif dilakukan sembari menunggu proses vaksinasi benar-benar selesai.

BACA JUGA  Karantina Pemudik, Ganjar Usul Pemkot Solo Buat Call Center

“Proses vaksinasi itu lama, jarak antara suntik pertama dengan suntik kedua saja 14 hari. Lalu setelah itu kekebalan tubuh baru akan terbangun menunggu 21 hari setelah suntik kedua. Totalnya ada sekitar 35 hari. Itu orang biasa, kalau lansia jarak penyuntikannya bisa sampai 4 minggu karena responnya berbeda. Itu pun baru satu orang,” ucapnya saat ditemui di kantornya, Kamis (4/3/2021).

Soal vaksinasi yang tengah bergulir saat ini tidak lantas membuat puas. Menurutnya, setelah vaksinasi dan tidak menegakkan protokol kesehatan adalah langkah yang kurang tepat. Karena gerakan 5M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas) merupakan langkah efektif untuk mengurangi jumlah orang-orang yang terpapar virus.

BACA JUGA  Merasa Aman, Ratusan Warga Tlogolele Pilih Bertahan di TPPS

“Percepatan vaksin itu harus, tapi jangan kemudian lalai dalam melakukan 5M nya. Ini juga kan tujuannya mengurangi orang-orang terpapar dengan diisolasi. Ya kalau di Semarang ada Rumah Dinas Walikota, Islamic center Manyaran, Balai Diklat Srondol,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah selaku pembuat kebijakan dapat lebih komprehensif melihat persoalan yang ada. Upaya-upaya penekanan Covid-19 harus diperinci sedemikian rupa agar menemukan akar permasalahannya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan kendatipun telah disuntik vaksin. Penyuntikan vaksin bukan alasan untuk jumawa dan merasa bebas dari penularan Covid-19. (Majid-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: