Jateng Dorong Diversifikasi Pangan Lokal

Kegiatan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal 2020, di Lapangan Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang belum lama ini. (ist)

Semarang (wartajateng.id) – Konsumsi beras dan terigu di Jawa Tengah masih mencapai 91 persen.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong diversifikasi pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan terigu, dengan memperkuat kedaulatan pangan nasional, sekaligus mempromosikan konsumsi umbi-umbian, seperti garut, gembili dan uwi, sebagai panganan sumber prebiotik.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Sekda Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu mengungkapkan, pangan lokal seperti garut, ganyong, uwi, gembili, talas sukun dan waluh bisa menjadi aset kekayaan pangan. Penganekaragaman pangan seperti umbi-umbian juga diharapkan mampu mengurangi defisit impor gandum.

“Masyarakat banyak yang beranggapan umbi-umbian sebagai makanan kelas dua. Padahal menurut penelitian umbi-umbian adalah sumber prebiotik, untuk meningkatkan imunitas dan saluran cerna,” ujar Peni, membacakan sambutan, mewakili Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, pada Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal 2020, di Lapangan Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang belum lama ini.

Ditambahkan, umbi-umbian juga bisa diolah menjadi berbagai macam panganan. Seperti kudapan, biskuit, mi, bakso, bubur, nugget, serta bahan pengental, penyalut, dan sebagainya.

Berdasarkan data, industri makanan jenis mi, biskuit, wafer, dan crackers, menyumbang kontribusi sebanyak 85 persen. Karenanya, potensi pengembangan cookies dari umbi-umbian lokal terbuka lebar.

“Melihat besarnya potensi aplikasi tepung dan pati dari umbi-umbian lokal, maka pengembangan tepung dari umbi-umbian nantinya diharapkan menggeser kedudukan tepung terigu,” papar Peni. (Naz-02)

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: