Jualan Keripik Pisang, Siswa SMKN Jenawi: Buat Beli Kuota Internet

Hasil kreasi Siswa SMKN Jenawi berupa keripik dari pelepah pisang, daun kelor dan pegagan. (Foto: Iwan)

Karanganyar (wartajateng.id) − Apa yang dilakukan oleh siswa SMKN Jenawi ini patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, di tengah badai pandemi Covid-19, terdapat 11 pelajar membuat kreasi makanan snack untuk meringankan beban orang tua.

Terutama untuk membeli paket data  yang digunakan untuk proses belajar melalui jaringan internet.

Ke 11 pelajar kelas X dan XI jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dan Akintansi (AK)  ini membuat kreasi keripik pelepah pisang, daun kelor serta daun pegagan.

Selain produksinya sederhana, dan belum pernah terpikirkan sama sekali. Bahan baku yang mudah didapat membuat biaya produksi keripik ini sangat kecil.

BACA JUGA  12 Calon KPID Jateng Dicecar Soal Integritas

Seperti keripik  pelepah pisang. Bahan bakunya tidak sulit diperoleh. Apalagi Jenawi dikenal sebagai salah satu penghasil pisang di Karanganyar. Batang pohonnya belum pernah diproses lanjut menjadi bahan baku kuliner. Sedangkan daun kelor dan pegagan hanya berserakan di kebun.

Dijelaskannya, untuk membuat keripik pisang, dibutuhkan waktu berhari-hari. Mulai dari memotong pelepah pisang, merendam serta memberi bumbu.

“Pelepah pisang diambil tengahnya. Direndam dua hari dengan injet, batu kapur dan garam untuk menetralisir racun,” kata Catur Prasetya  siswa kelas XI TKR 1, Jumat (5/3/2021).

BACA JUGA  BRT Feeder 4 Trans Jalur Gunungpati- BSB Resmi Beroperasi

Dikatakannya, keripik pelepah pisang ini dipercaya memiliki banyak manfaat untuk  kesehatan.

“Bahan dasarnya tidak beli. Bahan dasar melimpah,” kata Catur.

Staf TU SMKN Jenawi, Heri Prihatin Sari Utomo, mengungkapkan, hasil kreatifitas anak asuhnya berawal keresahan mereka selama mengikuti proses kegiatan belajar mengajar melalui jaringan internet.

Menurut Heri, ke 11 siswanya  bukan dari keluarga berkecukupan. Sehingga, didampingi berwirausaha. Dari modal awal Rp2 juta yang diberikannya, produksi awal lumayan lancar.

Hingga sekarang menginjak bulan keempat, omzetnya sudah dapat membiayai dua buruh dapur. Selain itu, per pekan bisa mengantongi keuntungan bersih Rp1,7 juta dari omzet Rp4,5 juta per bulan.

BACA JUGA  Tetap Produksi, Ganjar Apresiasi Pabrik Tahu dan Pengrajin Tempe di Tengah Pandemi

“Setiap anak per minggu mendapat bagian  Rp100 ribu. Lumayan bisa beli kuota internet. Belajar daring juga lebih lancar,” katanya.

Produknya dipasarkan secara daring dan dititipkan ke sejumlah toko  dan warung makan. Di outlet yang ramai, 50 bungkus habis terjual dalam beberapa hari saja. Harga per bungkus cukup terjankau, hanya Rp10 ribu saja.

“Produksi sehari rata-rata 40 bungkus. Kalau lebih dari itu tidak mampu. Soalnya memang dikerjakan secara manual,” katanya. (Iwan-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: