Kisah Deny, Jual Kaset Pita Demi Teruskan Perjuangan Orang Tua

Penjual kaset pita Deny menunjukkan kaset pita, Rabu (26/8/2020). (Foto : Majid)

Semarang (wartajateng.id) – Kaset pita sempat menjadi primadona bagi penikmat musik tanah air. Terutama sekitar tahun 70′ sampai akhir 90′ an. Tepatnya, saat dunia digital belum seramai ini.

Di masa digital saat ini, ingin menikmati sajian musik lewat kaset pita bukan hal yang mudah. Pasalnya, orang lebih tertarik menikmati musik melalui platform digital yang tersaji di Internet.

Namun, di tempat ini, di Rumah Makan (RM) Padang Jaya yang berlokasi di Ruko Bubakan Baru A16, Jalan Agus Salim Semarang masih bertahan menjual kaset pita meski digerus perkembangan zaman.

“Usaha ini mulai tahun 1977 dan merupakan rintisan ayah Saya. Dulu beliau keliling Indonesia menjual kaset pita ini,” ucap Deny, penerus usaha Rumah Makan dan kaset pita, Rabu (26/8/2020).

Deny menerangkan, harga kaset berkisar antar Rp 18.000 sampai Rp.20.000 dan ada ribuan koleksi kaset pita dari berbagi genre musik musisi kawakan pada masanya.

“Pada era 80′ ada semacam Nia Deniati. Kalo 90′ an ada Stinky, Dewa. Dulu ramai Nike ardila tapi sekarang sudah tidak produksi lagi,” tambahnya.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya hanya menghabiskan stok yang tersisa dari kaset pita karena sudah tidak produksi lagi.

“Kalo stok habis ngga bisa beli lagi. Terakhir itu tahun 2012 setelah itu ngga produksi lagi. Yang terbaru band macam ST12, Wali dan Naff,” tambahnya.

Ia menegaskan, hanya pedagang kaset, jadi jual apa adanya. Kadang dengan harga yang terjangkau ada yang menawarkan. “Ada juga yang ngambil disini tapi dijual dengan harga tinggi, akhirnya kami marahi,” tutupnya. (Majid-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: