Kisah Harun, Seorang Mahasiswa Jadi Relawan Bencana Banjir di Demak

Salah seorang relawan Harun saat mendatangi langsung tempat-tempat yang mengalami bencana dan berinteraksi dengan warga. (Foto: dok)

Demak (wartajateng.id) – Akhir pekan nampak sepi di masa pandemi. Rumah sakit yang biasanya ramai penjengukpun terlihat lengang. Namun, detak kehidupan masih terasa di Markas PMI Kabupaten Demak. Bersiaga 24 jam apabila bencana tiba-tiba menimpa.

“Ayo mas ngobrolnya di dalam saja,” ajak lelaki berumur 23 tahun itu.

Namanya M Harun Ismail (23), bujangan asli Desa Kuncir, Kecamatan Wonosalam, Demak yang 15 bulan terakhir menetap di Markas PMI Kabupaten Demak. Dalam kurun waktu tersebut ia aktif menjadi relawan Korps Sukarela (KSR) di sana. Apapun dan kapanpun bencana terjadi meski di tengah malam, ia harus siap untuk menuju ke lapangan.

“Sebenarnya saya sudah masuk KSR sejak tahun 2018, namun sempat vakum karena kepentingan kuliah. Kemudian tahun 2019 saya aktif kembali,” ujarnya pada tim wartajateng.id, Minggu (7/3/2021).

Harun berinteraksi dengan warga korban banjir Demak. (Foto: dok)

Selama menetap, sepanjang itu juga ia mondar-mandir mendekati bahaya. Dari bencana seperti kebakaran hingga bencana banjir, ia selalu hadir demi rasa kemanusiaan. Sudah jadi kebiasaan bagi Harun bersama relawan KSR lain datang terlebih dahulu ke lokasi untuk memeriksa seberapa parah kondisi di lapangan.

BACA JUGA  Dua Pedagang di Taman Pancasila Dipulangkan

“Di PMI sendiri itu kita diajarkan untuk berbagi, menolong sesama, dan lain sebagainya. Meskipun di sana kita hanya sebagai relawan, di sana kita secara moral kalau ada manusia yang membutuhkan, berusaha agar kita bisa membantu,” ungkapnya.

Sebagai relawan, tak ada uang bulanan yang ia dapatkan. Hanya uang ala kadarnya untuk transportasi dan makan mereka terima.

“Kami itu bayarannya nanti 77 bidadari, kalau di kami becandanya begitu,” kelakarnya.

Bencana yang harus dihadapi dalam kesehariannya tak ayal membuat kedua orang tuanya khawatir.

“Kalau khawatir sih sudah pasti khawatir namanya orang tua, tapi mereka tidak pernah melarang,” ujarnya.

Waktu libur seperti idul adha dan idul fitri yang digunakan orang lain bercengkrama dengan keluargapun tidak bisa Harun rasakan.

BACA JUGA  Mahasiswa KKN-DR Gelar Bakti Sosial ke Panti Asuhan

“Karena memang kan kami juga bertugas, rindu dengan keluarga itu sudah pasti. Untungnya sekarang sudah ada video call, ya saat itu tidak ada orang lain ya saya nangis juga,” tuturnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.

Bukan hal yang mudah jauh dari orang tua dan harus berhadapan dengan bencana. Kondisi kesehatannya juga tidak melulu bisa tetap prima.

“Baik itu fisik maupun mental pasti ada lelahnya. Untungnya disini kawan-kawan baik dari KSR maupun staff PMI itu baik dan perhatian, mereka selalu memberi semangat. Berdirinya saya sampai sekarang juga karena bantuan mereka,” ujarnya.

Bulan Februari yang lalu, Harun sudah direkrut untuk menjadi staf di PMI Kabupaten Demak. Meskipun begitu, ia bersikeras meminta agar bisa terjun ke lapangan bertemu masyarakat yang membutuhkan.

BACA JUGA  Dinas Pendidikan Optimalkan Pembelajaran Kunjungan ke Rumah Siswa

“Saya itu dari awal bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan secara langsung itu sudah senang. Baik itu warga yang terkena bencana, baik itu anak-anak itu sudah senang,” ungkapnya.

Harun menambahkan, rasa kemanusiaan ini sudah tumbuh sedari kecil. Ia bertemu dengan lingkungan dan orang-orang yang membuatnya agar menjadi mandiri, dan juga berusaha menyelaraskan diri dengan setiap manusia yang ditemui.

“Sampai akhirnya rasa kemanusiaan itu terbawa sampai sekarang. Untungnya sekarang saya bekerja di bidang sosial, dan hati saya terikat dengan sosial juga. Disitu saya menemukan kenyamanan,” ujarnya.

Mahasiswa yang kini sedang menempuh skripsinya itu menunjukkan bahwa masih ada orang yang lebih memikirkan kepentingan yang lain. Mari merenung berapa kali kita mengeluh dengan apa yang kita punya meski jarang berbagi dengan sesama. (Devan-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: