Kuliah Modal Nekat, Hingga Jadi Jutawan

Ulil Albab, saat mengisi materi di salah satu event Semarang. (Foto : ist)

Jepara (wartajateng.id) – Bermimpi merubah nasib pernah mengantarkan Ulil Albab (27) untuk berkuliah, namun apa daya kehidupan dari seorang anak tukang becak membuatnya harus berjuang seorang diri.

Ujian Tuhan tak cukup sampai di situ, pada tahun 2014 silam menjelang akhir pendidikan di bangku SMA ia harus kehilangan sosok ayah yang dicintainya sekaligus sebagai tulang punggung keluarga.

“Waktu itu sempat jual becak bapak juga untuk pengobatan, bagaimana lagi keluarga serba kekurangan,” ungkap Ulil kepada wartajateng.id, Kamis (4/3/2021).

Meski serba keterbatasan tak menyurutkan niatan Ulil untuk menempuh perguruan tinggi, ia berkeyakinan setelah kuliah nanti bisa merubah nasib keluarga.

Mengingat dari ketiga kakaknya bahkan satu RT di kampungnya belum ada satupun yang menempuh pendidikan tinggi. Ulil tak menampik, dari kondisi keluarga yang sederhana ia harus susah payah mendapatkan restu ibunya.

“Ibu akhirnya mengizinkan waktu itu, saya dibolehkan kuliah tapi ibu tidak bisa membiayai hanya bisa mengasih beras,” tuturnya sembari mengenang waktu itu.

BACA JUGA  Banyak Ditemukan Artefak, Pemerintah Butuh Museum

Pada akhirnya niatan Ulil tersampaikan, ia diterima di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Kota Semarang jurusan pendidikan matematika.

“Dulu jual handphone saya untuk membayar pendaftaran kuliah,” tambahnya.

Semasa kuliah demi menyambung hidup beberapa pekerjaan pun ia lakoni, mulai dari waiters freelance di restoran, setiap weekend, waiters cafe hingga sebagai guru bimbingan belajar dengan penghasilan Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu rupiah per minggu.

Rupa-rupanya kuliah modal nekat tak seperti apa yang ia bayangkan, banyaknya kebutuhan seperti biaya kuliah, makan, dan kebutuhan belajar membuatnya kembali berpikir keras untuk mencari pekerjaan tambahan.

Hingga pada suatu hari pada 2015 satu tahun masa pendidikan ia pun mulai berjualan kaos hingga hijab. Namun sayang untuk kaos sendiri gulung tikar.

Siapa sangka, menjadi reseller hijab menjadi salah satu jalan untuk kesuksesannya. Lambat laun Ulil memproduksi hijab sendiri dan menjualnya secara online via marketplace di sela-sela menjalani tugas kuliah.

BACA JUGA  Avrist Prime Hospital Surgical Tawarkan Asuransi untuk Keluarga Besar

Perjalanan waktu perlahan mengantarkannya menuju kesuksesan meski masih mahasiswa, selang dua tahun ia memiliki karyawan sebanyak tiga orang pun omset penjualan mencapai Rp 30 hingga Rp 40 juta perbulan.

“Saya waktu itu bekerja keras, karena punya impian juga ibu bisa umroh dan naik haji sebelum wisuda,” ucapnya.

Tak cukup sampai di situ, pemuda yang akrab di sapa Ulil ini juga pernah dinobatkan sebagai pelapak terbaik se-Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2017.

Tawaran mengisi acara pun datang dari pelbagai tempat, dari mengisi di beberapa event komunitas hingga kampus seperti Unisbank,  Udinus, Unpad, Unisula, Uinsiq.

Pada tahun 2019 silam impiannya pun di jawab yang kuasa, tepat di sela-sela pengerjaan tugas akhir kuliah ibunya yang beralamat di Desa Kedungsari Mulyosari,  Kecamatan Welahan, Jepara menunaikan haji.

BACA JUGA  Wabup Demak: Saat Ini Bukan Jamannya ASN Dilayani

Di akhir masa kuliah, tepatnya pada akhir tahun 2019 usaha yang ditekuninya mulai pudar. Pelan bayang-bayang kerugian menimpanya. Ia pun kembali berpikir keras untuk keluar dari masalah tersebut.

Ibarat kata, siapa yang menanam maka ia akan menuai layak disandangkan kepadanya. Di tengah keterpurukan berbagai tawaran datang untuk membantunya berjualan lagi.

“Dulu kakak-kakak saya dan keluarga teman dekat pedagang offline, saya ajari mereka online jadi mereka bertahan. Ketika tahu kondisi saya seperti mereka pada datang,” ujarnya.

Bermula dari tawaran kakaknya, Ulil menekuni baju sablon anak. Tak selang lama, kesuksesan pun kembali menghampirinya saat ini.

Dari bisnis yang dilakoni saat ini omset penjualan mencapai Rp 80-90 juta perbulan dengan dua karyawan tetap dan beberapa lainnya sebagai reseller.

“Karena aku punya Allah, maka aku berani bermimpi,” ucapnya ketika ditanya motivasi perjalanan hidupnya. (Zaidi-05).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: