Menyiapkan Diri Hadapi Masalah

Beach Club Tanjung Lesung Banten. (Foto : Ist)

Hujan tetap turun meski kita tidak sedia payung. Begitu pun dengan masalah, bisa datang kapan pun meski kita tidak siap menghadapinya.

Beberapa tahun silam, yaitu saat masih di bangku sekolah dan aktif mengikuti kegiatan pecinta alam ia sangat terkesan dengan sebuah pengalaman berkemah di lereng gunung. Bukan hanya terkesan dengan suasana dan kegiatannya, saya juga sangat terkesan dengan pembelajaran berharga tentang kehidupan melalui pengalaman berkemah ini.

Sebelum kami melaksanakan perkemahan, kami harus melakukan persiapan. Latihan fisik kami lakukan beberapa minggu sebelum melaksanakan perkemahan. Lari, push up, sit up dan senam kami lakukan.

Selain persiapan fisik, menyiapkan bekal dan perlengkapan pribadi adalah hal sangat penting seperti obat-obatan pribadi, pakaian, alat mandi, senter, makanan, tali, tongkat dan juga ponco hujan. Bekal dan perlengkapan pribadi inipun harus dikemas sedemikian rupa.

Sebelum dimasukkan ke tas ransel, semua bekal pakaian, obat, makanan dan perlengkapan lain harus dibungkus plastik. Memasukkan bekal dan perlengkapan pun tidak sembarangan. Obat-obatan diletakkan di saku tas. Pakaian dimasukkan terlebih dahulu. Tali dan ponco hujan harus masuk paling terakhir atau berada di paling atas.

Singkat cerita, sampailah pada waktu perkemahan dilaksanakan. Kami sampai di lokasi sudah agak sore, sekitar jam 15.00 WIB Setelah mendapat pengarahan, kami diminta membuat bivak atau tempat berlindung sementara di alam bebas menggunakan ponco hujan di lereng gunung. Tentu saja, ini untuk perseorangan.

Kami bergegas ke lereng gunung mencari tempat yang bagus untuk mendirikan bivak. Semua berpencar. Perlengkapan sederhana untuk membuat bivak adalah ponco hujan, tali dan juga tongkat. Semua tampak lancar.

Kira-kira 15 menit kami berupaya mendirikan bivak, turunlah hujan. Keadaan berubah. Sebagian dari kami berhasil mendirikan bivak sehingga bisa berteduh saat hujan, termasuk saya. Sebagian belum selesai dan kena hujan. Bahkan ada yang tampak panik karena justru tidak membawa ponco hujan.

Untung hujan tidak lama turun. Meski begitu, hujan ini cukup menyusahkan kami. Ada yang basah kuyub karena tidak membawa ponco hujan. Ada yang cukup basah karena belum selesai mendirikan bivak.

Pakaian dalam tas basah karena tidak dibungkus plastik. Ada yang mendirikan bivak di lokasi aliran air. Sementara itu, hanya sebagian yang cukup baik kondisinya ketika turun hujan karena lebih siap dan sigap. Bekal dan perlengkapan lengkap, dibungkus plastik dengan baik sehingga tetap kering.

“Alam tidak bersahabat dengan kita,” kata pembina kami. “Saat hujan turun, ia tetap turun tidak peduli kita sedang berteduh atau tidak. Kitalah yang harus bersiap menghadapi alam ,” lanjutnya.

Ya, hujan ini memberikan pelajaran sekaligus hukuman bagi sebagian kami yang tidak mempersiapkan diri dengan baik seperti arahan pembina atau senior. Hujan tetap turun meskipun sebagian kami tidak membawa perlengkapan, belum siap bivaknya atau pakaian dalam tas ransel yang tidak dibungkus plastik.

Pembina kami menuturkan, bahwa kami harus mengambil hikmah dari peristiwa ini, bukan hanya untuk kebaikan dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya. Melainkan juga, belajar tentang kehidupan. Kita harus menyiapkan diri menghadapi masalah. Kita tidak berharap ada masalah. Hanya, saat masalah tiba kita kuat menghadapinya. Untuk itu kita harus punya mental yang kuat.

Bagaimana menguatkan mental? Tentu ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Misalnya adalah melakukan kegiatan ekstrim yang memicu adrenalin seperti mendaki gunung, naik roller coater atau wahana permainan lain yang menantang, berkemah dan kegiatan di alam bebas lainnya.

Bisa juga dengan olahraga, misalnya biasanya lari 5 km, tambah jadi 10 km atau 15 km dan seterusnya. Bisa juga dengan mengikuti meditasi, pelatihan motivasi ataupun belajar ketrampilan baru.

Semoga bermanfaat dan latih terus mental Anda agar semakin kuat. Mental kuat, hidup kuat. (Mahmudi BM-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: