Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

KH. Afifuddin Muhajir saat menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari UIN Walisongo Semarang (Foto : Humas)

Semarang (wartajateng.id) – Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak bertentangan dengan syariat Islam. Selain tidak bertentangan, Pancasila selaras dengan syariat bahkan menjadi syariat itu sendiri.

Itulah tiga hukum hubungan antara agama dan negara yang disampaikan KH Afifuddin Muhajir saat mendapatkan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) dari UIN Walisongo Semarang, Rabu (20/1/2021).

KH Afifuddin Muhajir diberi gelar kehormatan atas sumbangsih pemikiran kontekstual dalam bidang Fikih/Ushul Fikih yang mampu menjawab problem sosial maupun keagamaan.

Dalam pidatonya yang berjudul “Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam Timbangan Syariat (Kajian Pancasila dari Aspek Nushush dan Maqashid)”, KH. Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa Pancasila jika dilihat dari kacamata ushul fiqih setidaknya memiliki tiga hukum yang saling berkaitan.

BACA JUGA  Babinsa di Demak Bantu Warga Dirikan Pos Kamling

Ia menyebut, hukum yang pertama ialah Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam. Hukum yang kedua, selain tidak bertentangan, Pancasila juga selaras dengan syari’at Islam. Sedangkan hukum yang ketiga, Pancasila merupakan wujud dari syari’at Islam itu sendiri.

“Di dalam tubuh syari’at Islam kita harus memadukan antara hukum yang sifatnya harga mati, tidak bisa diubah dengan hukum yang sifatnya lentur, fleksibel, bisa berubah sesuai perkembangan zaman. Ini penting untuk menjaga nilai dinamis Islam yang berlaku sepanjang zaman,” jelas kiai yang juga merupakan Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo.

BACA JUGA  Ngeri! Truk Tabrak 6 Kendaraan di Ngaliyan, 1 Orang Meninggal

Menurutnya, Pancasila bukan penghalang untuk menerapkan aturan syariat islam di negara yang berlandaskan Pancasila. Konsekuensi menjadikan Pancasila sebagai dasar negara adalah seluruh undang-undang negara tidak boleh bertentangan dengan sila di Pancasila.

Dalam paparannya, Kiai Afif juga menjelaskan konsep fiqih nusantara yang cenderung gampang disalahpahami oleh banyak orang. Menurutnya, konsep fikih nusantara erat kaitannya dengan penyebaran Islam awal di Indonesia.

Menurutnya, fikih nusantara merupakan konsep yang diambil dari intisari syari’at Islam yang berkembang di nusantara. Konsep ini akan terus berubah dan berkembang sesuai kondisi masyarakat nusantara.

BACA JUGA  Warga Klaten Loncat dari Jembatan Ditemukan Meninggal

“Ini merupakan konsep hukum Islam yang saya bilang tadi, yaitu konsep lentur, di mana syari’at akan berubah tergantung situasi dan kondisi sosial masyarakatnya,” tandasnya. (Majid-05).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: