Pantura Semarang-Demak Macet, Berkah Bagi Pedagang Keliling

Pedagang keliling berjualan di tengah kemacetan Jalan Pantura Semarang menuju Demak, Minggu (28/2/2021). (Foto: Devan)

Demak (wartajateng.id) – Antrean kendaraan masih saja terjadi di Jalan Pantura Semarang menuju Demak yang berpusat di wilayah Onggorawe, Minggu (28/2/2021).

Hal ini tentunya merupakan hal buruk bagi pengendara yang membutuhkan kecepatan waktu dalam perjalanan. Namun, kejadian ini ternyata merupakan sebuah berkah bagi pedagang keliling.

Salah satu yang bersyukur atas tersendatnya laju kendaraan adalah penjual Tahu Sumedang Ujang. Pria yang sehari-hari berkeliling di daerah Kecamatan Pedurungan, Semarang ini sekarang berpindah lapak di Jalan Pantura. Ia menjajakan jualannya kepada pengendara yang harus mengantre.

“Mungkin kalau penduduk yang kena banjir dan macet merasa susah, tapi saya malah bersyukur karena jualannya jadi lebih mudah,” ujarnya pada saat diwawancarai tim wartajateng, Minggu (28/2/2021).

BACA JUGA  Prakiraan Cuaca Jateng Minggu 21 Juni, Hujan Sedang di Pegunungan Tengah

Pria asli Sumedang itu mengatakan sudah pindah ke Semarang semenjak tahun 2010. Dirinya menuturkan bahwa sejak sekitar tiga minggu yang lalu ia berpindah lapak di mana ada kemacetan.

“Semenjak banjir kan kendaraan sering macet, di perjalanan pada lapar. Alhamdulillah jualannya jadi gampang,” tuturnya.

Selain kemudahan saat berdagang, Ujang menuturkan harga jual tahunya bisa lebih tinggi dibandingkan saat ia berjualan di tempat sebelumnya.

“Ya kan namanya permintaannya juga banyak. Ini saya datang tadi pukul 09.00 WIB, ini belum sampai masuk waktu dzuhur sudah mau habis,” terangnya.

Selain Ujang, ada banyak penjual lain di sepanjang Jalan Pantura seperti pedagang kerupuk, kacang, dan juga air mineral. Perantau dari Palembang yang juga memanfaatkan keadaan macet untuk berjualan kerupuk adalah Beben.

BACA JUGA  BUMD Beri 22 Tempat Cuci Tangan di Boyolali

“Biasanya saya jualan dari Semarang ke Jepara, Kudus, Pati, Sayung,” ujarnya.

Ia mengatakan merantau ke Semarang mengikuti kawan-kawannya yang lain akibat pandemi ini. Dirinya berjualan di Jalan Pantura bukan karena keinginannya namun karena lalu lintas yang terhambat.

“Kita gara-gara terhambat lalu lintas saja jadi turun di sini, daripada sampai tujuannya berjam-jam, ga dapat apa-apa,” ujarnya.

Baru tiga hari ini Beben berjualan di area kemacetan. Meskipun begitu, menurut keterangannya tidak ada penambahan dalam jumlah penjualannya.

“Ya sama saja, saya kan jualan kadang satu bungkus Rp5.000, kadang tiga bungkus Rp 10 ribu. Mengikuti kemauan pengendara juga dari pada tidak terjual,” ujarnya.

BACA JUGA  Prakiraan Cuaca, Jumat 11 Desember 2020 Jateng Diguyur Hujan

Beben yang saat ini dikaruniai tiga anak meninggalkan keluarganya di kampung halaman. Anaknya yang pertama duduk di kelas 3 SD, yang kedua masih berumur 5 tahun, dan anak yang ketiga berusia 2 tahun. Meskipun penjualan dagangannya juga terhambat akibat pandemi, ia tidak mau memikirkan terlalu jauh akan hal itu.

“Namanya hidup jangan dipusingkan lah, kalau dipusingkan terus malah nanti jadi gila,” pungkasnya. (Devan-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: