Pentingnya Peningkatan Literasi Digital Bagi Santri Pondok Pesantren

Ketua Ayup Suran Ningsih menyampaikan materi literasi digital dihadapan para santri di Ponpes Asshodiqiah, Sawah Besar, Kota Semarang. (Foto : Ist)

Semarang (wartajateng.id)Saat ini masyarakat memperoleh informasi sangat mudah. Media digital memudahkan setiap penggunanya untuk saling berbagi informasi. Sumber informasi bisa berasal dari mana saja, era digital sungguh tidak dapat dielakkan lagi.

Siapapun dapat dengan mudah memanfaatkannya dengan baik, namun tidak jarang juga dapat merugikan seseorang. Ketidakpahaman masyarakat terhadap media digital dapat mengakibatkan penyalahgunaan yang berakibat terhadap pelanggaran kehidupan pribadi dan sosial pihak lain.

Media sosial hadir sebagai bagian dari Media Digital melalui perkembangan internet. Kehadirannya menawarkan alternatif cara berinteraksi, berkomunikasi, dan bersosialisasi yang mudah dan baru dengan dukungan berbagai fitur yang menarik.

Jumlah pengguna media sosial di Indonesia didominasi kalangan remaja sehingga dampaknya sangat banyak dirasakan oleh remaja. Penggunaan Media Digital yang baik dapat meningkatkan prestasi generasi muda, namun sebaliknya penggunaan yang buruk dapat berakibat negatif terhadap diri anak dan remaja.

Untuk bisa memanfaatkan internet dengan baik, semua orang termasuk para santri harus memiliki literasi digital yang baik.

Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan dunia digital dapat menimbulkan dua sisi yang berlawanan dalam kaitannya dengan pengembangan literasi digital. Berkembangnya peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital mempunyai tantangan sekaligus peluang.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat berdampak pada ketertinggalan masyarakat apabila mereka tidak mampu beradaptasi. Ini berdampak pada munculnya era disrupsi.

Disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.

Supaya bisa memanfaatkan internet dengan baik, perlu penguatan literasi para santri. Selain itu perlu ada proteksi agar internet digunakan hanya untuk kebaikan, dan para gurunya harus mengarahkan para santri supaya bisa menyaring hal-hal negatif dari internet.

Dalam rangka memberikan pemahaman terkait Literasi Digital pada Santri, Tim Pengabdian Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang yang terdiri dari Ketua Ayup Suran Ningsih, SH., LL.M., M.H dan Anggota Ubaidillah Kamal, S.Pd., M.H, Nurul Fibrianti, S.H., M.Hum., Indung Wijayanto, S.H., M.H dan Mahasiswa Prita Fiorentina mengadakan Pengabdian di Pondok Pesantren Asshodiqiah, Sawah Besar, Kota Semarang pada Sabtu,24 Oktober 2020 yang bertepatan pada perayaan Hari Santri Nasional.

Pengabdian ini dihadiri 40 Santri dan Santriwati. Peserta Pengabdian sangat antusias mengikuti Pengadian, dalam interaksi dengan para santri Pondok Pesantren Asshodiqiah.

Diketahui bahwa Ponpes telah terbuka terhadap kemajuan teknologi dan di Pondok telah terdapat Laboratorium Komputer dan akses internet (wifi) bagi para santrinya dengan ketentuan pembagian jam akses, yaitu 5 jam per hari.

Selain itu, Pondok Pesantren Asshodiqiah juga memiliki media sosial seperti Youtube, Facebook, dan Instagram guna mempublikasikan dakwah dan kegiatan yang diselenggarakan Ponpes Asshodiqiah.

Hal ini sangat bagus karena masih banyak Pondok Pensantren yang belum memberikan akses internet dan komputer kepada para santrinya. Pondok Pesantren perlu memberikan infrastruktur seperti laboratorium komputer dan akses internet memadai di pesantren, sesungguhnya hal tersebut bukan hal negative, tentu dengan ketentuan dan pengawasan yang bagi dalam penggunaannya.

Peningkatan Literasi Digital bagi Santri melalui pemberian akses internet dan komputer justru akan membuat percepatan quantum learning bagi santri, ustadz, ustadzah dan kiai untuk belajar dari kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia dan belahan dunia lain. (Penulis: Ayup Suran Ningsih-01)

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: