28/11/2022

Wartajateng.id – Menyambut Tahun Baru 2022, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Batang menyelenggarakan pagelaran wayang dengan menampilkan empat dalang sekaligus. Yakni Dalang Cilik Ki Reza Lakon Kumbokarno Gugur, Dalang Cilik Ki Beta Lakon Dewa Ruci, Dalang Remaja Ki Fajar Lakon Duryudana Gugur dan Dalang Dewasa Ki Riyatno Lakon Gatotkaca Wisuda.

Ketua Pepadi Batang Retno Dwi Irianto mengatakan, selama Pandemi Covid-19 para pelaku seni khususnya dalang dan pengrawit sangat minim beraktivitas karena adanya sejumlah pembatasan-pambatasan.

“Teman-teman tidak bisa tampil dan berekspresi karena situasi yang tidak memungkinkan, lalu tidak dapat apa-apa,” katanya saat ditemui dalam Pagelaran Wayang Menyambut Tahun Baru Nasional 2022 di Gedung Serbaguna Desa Cepokokuning, Kabupaten Batang, Selasa (21/12/2021) malam .

Ia mengapresiasi melalui kegiatan ini hasrat para seniman pedalangan bisa tersalurkan, setelah memperhatikan situasi pandemi yang mulai mereda. “Alhamdulillah berkat izin yang diberikan oleh pihak kepolisian, pagelaran ini bisa terlaksana dalam kondisi jumlah penonton yang terbatas,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi peran dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah yang telah memfasilitasi, sehingga pagelaran dapat terlaksana. Ketua Pepadi Harian Ki Tulus Wahyu Utomo mengatakan, pagelaran ini bertujuan untuk regenerasi dalang cilik yang dikolaborasikan dengan dalang senior.

“Durasi pementasan tiap dalang satu jam mulai jam 20.00 – 02.00 dini hari, pembukaan dengan wayang golek santri menampilkan Ki Dalang Wahyudin mengusung lakon vaksin,” tuturnya. Ia menerangkan, pementasan dengan format yang berbeda, memang membawa sedikit dampak bagi para dalang.

“Tetap ada pengaruh dalam penyampaian pesan melalui lakon menjadi kurang jelas. Tapi karena harus dipangkas, maka kami mengambil inti dari lakon itu, yang tidak akan menghilangkan cerita,” terangnya. Perwakilan dari DPRD Jateng, yang juga Ketua DPD PAN Batang, Juki JS mengutarakan, pementasan wayang ini dapat digelar karena seni pedalangan di Batang memang masih banyak generasi penerus yang ingin ikut melestarikan. “Mari kita lestarikan budaya leluhur yang bisa dipetik pelajaran untuk kehidupan masa depan,” ujar dia

Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *