Prodi Antropologi Sosial Undip Bertekad Raih Akreditas A pada 2021

Kaprodi Antropologi Sosial, Dr Amirudin saat webinar, Kamis (15/10/2020). (Foto : dok)

Semarang (wartajateng.id) – Program Studi (Prodi) Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang bertekad meraih akreditas A pada tahun 2021. Meskipun, usia program studi tersebut belum genap sepuluh tahun.

Ketua Prodi Antropologi Sosial FIB Undip, Dr Amirudin menyatakan, tekad meraih predikat unggul baik secara administratif, teknis maupun akademis terus dimantapkan agar pada evaluasi status Prodi tahun 2021 bisa mencapai hasil yang maksimal.

“Harapannya, dari status yang sekarang, kita bisa langsung meraih predikat unggul,” kata Amirudin, Kamis (15/10/2020).

Menurut Amir, saat ini Prodi Antropologi Sosial UNDIP memiliki akreditasi B. Karena itu, seluruh komponen terdorong untuk memperbaiki status akreditasinya melihat pesatnya minat masuk Prodi Antropologi Sosial UNDIP.

Dilihat dari jumlah calon mahasiswa yang mendaftar, prodi ini berada di papan tengah di antara prodi-prodi yang ada di Universitas Diponegoro.

“Rasio peminat dengan kursi yang tersedia sekitar satu banding enam belas,” tambah dia.

Prodi Antropologi Sosial Undip berdiri tahun 2014. Dan merupakan program studi termuda di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Berawal dengan 20 mahasiswa di angkatan pertama, setiap tahunnya terjadi penambahan daya tamping secara siginikan.

“Di tahun 2020 dari sekitar dua ribu lima ratus pendaftar, sebanyak 150 mahasiswa yang diterima belajar di sini,” terangnya.

Naiknya jumlah mahasiswa dimungkinkan karena jumlah dosennya masih sangat memadai. Hal tersebut juga ditunjang dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai.

“Dukungan dan komitmen universitas untuk menyediakan kebutuhan dan pengembangan termasuk laboratorium juga membuat program studi ini berkembang pesat,” tambahnya.

Selain tenaga pengajar yang memadai, tersedia juga laboratorium etno fotografi dan etno audiovisual yang kini giat mendokumentasikan kekayaan kebudayaan nasional.

Mengenai tingginya minat masuk ke Prodi Antropologi Sosial, Amirudin menyebut bahwa kebutuhan sarjana antropologi sosial semakin diminati seiring adanya Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Berlakunya UU tersebut berimplikasi munculnya kebutuan akan profesi pamong budaya di setiap wilayah Pemerintahan Daerah (Pemda). Bahkan, muncul kebutuhan antropolog sosial untuk mengisi pos-pos di kantor kedutaan Indonesia.

“Peluang dan prospeknya masih terbuka dan sangat bagus. Karena itu, kami berupaya menjadi penyelenggara Program Antropologi Budaya yang unggul. Yang pasti, Undip fokus pada kebudayaan manusia modern, bukan yang klasik,” tukasnya. (Majid-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: