Semarak Hari Santri Nasional, KKN UIN Walisongo Gelar Bedah Film

Kelompok KKN-DR kelompok 14 bersama Narasumber, IRMAS, IPNU dan IPPNU Desa Payak. (Foto : dok/KKN)

Pati (wartajateng.id) – Memperingati Hari Santri Nasional, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN-DR) reguler kelompok 14 UIN Walisongo Semarang bersama Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) gelar Nonton Bareng (Nobar) serta bedah film.

Mengusung tema “Meneguhkan Semangat Juang Pemuda Bangsa” kegiatan bertempat di Gedung Muslimat, Desa Payak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.

Ketua NU ranting Desa Payak, yang juga sebagai tokoh masyarakat, Arwani mengatakan, bahwa acara seperti ini sudah memberikan ilmu baru bagi anak-anak IRMAS dan IPNU-IPPNU melalui film yang ditayangkan.

“Pengemasan acara ini sudah bagus. Kalian bisa menyampaikan ilmu baru kepada adik-adik melalui pemutaran film yang tidak membosankan,” ungkapnya.

Acara nonton film dengan judul “My Flag” tersebut juga dihadiri aktornya langsung untuk bersama-sama membedah film, serta memberikan beberapa semangat bagi adik-adik untuk selalu menjadi santri yang cinta tanah air.

“Saya berharap setelah diadakannya nonton bareng ini, para santri yang merupakan anak bangsa menjadi lebih berani mengejar apa yang mereka cita-citakan,” ucap West Al-Korni selaku aktor.

Ia juga menambahkan, bahwa tetap berpegang teguh pada aturan Agama harus selalu menjadi acuan untuk mengejar cita-cita. Apalagi hakikatnya sebagai santri dengan segala tindakan haruslah di dasari dengan ilmu agama yang dimiliki.

“Selain keberanian untuk mengejar cita-cita, hakikat kita sebagai santri untuk tidak lupa selalu berpegang teguh pada aturan agama agar tidak salah jalan.” imbuhnya.

Acara positif inipun sudah menjadi rutinitas yang dilakukan setiap tahun, namun pada tahun ini cukup berbeda, karena dampak dari pandemi Covid-19, maka selain penerapan protokol kesehatan, peserta pada acara kali inipun terbatas, selain itu, waktu yang dijalankan juga dipersingkat.

Sementara Juru Bicara IRMAS Moh Aziz juga menambahkan, mengenai hari santri menurutnya menjadi hari untuk santri yang bersifat umum, bukan hanya mereka yang tinggal di pondok pesantren saja yang di sebut santri.

“Sebagai pemuda Islam, kita semua santri. Santri bukan hanya yang tinggal di pondok, namun di rumahpun ketika kita mau belajar ilmu agama, kita sudah disebut sebagai santri.” pungkasnya.
(Penulis Tim KKN-Nizar-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: