SMA N 1 Sayung, Launching Pojok Kependudukan

Mading dan perpustakaan mini Pojok Kependudukan yang ada di SMA Negeri 1 Sayung, Demak. (Foto: Ist)

Demak (wartajateng.id) – Sebagai perwujudan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), SMA Negeri 1 Sayung launching Pojok Kependudukan, tempat diolah secara kreatif dalam bentuk majalah dinding dan dilengkapi dengan perpustakaan mini, Selasa (27/10/2020).

Mading dan perpustakaan mini diisi pelbagai materi seputar remaja dan kependudukan

Pojok Kependudukan diresmikan oleh Kepala SMA Negeri 1 Sayung, Suharno, disaksikan Plt Koordinator Balai Penyuluhan KB (BPKB) Kecamatan Sayung, Indri Astuti. Turut mendampingi, Pembina Pusat Konseling dan Informasi Remaja (PIK-Remaja), Siti Ashnaf.

Mengingat masih dalam masa adaptasi baru pandemi Covid-19, peresmian pun dilakukan secara efektif.

“Hanya mengundang beberapa perwakilan pengurus PIK-R,” terang Kepala SMA Suharno.

Pojok Kependudukan di SMA N 1 Sayung Demak. (Foto : dok)

Pembina PIK-R, Siti Ashnaf mengatakan, melalui konten seputar Generasi Berencana dan isu-isu kependudukan (demografi) yang ditampilkan secara atraktif tersebut, diharapkan para siswa/siswi SMAN 1 Sayung dapat lebih memahami dan peduli terhadap tantangan permasalahan Kependudukan ke depannya.

Sehingga secara sadar, mereka akan memacu diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan SDM aset bangsa, bukan justru membebani negara .

“Inilah salah satu tantangan remaja untuk menyongsong masa bonus demografi yang diprediksi akan terjadi pada 2030 mendatang,” ujarnya.

Adapun Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), lanjut Ashnaf, merupakan sekolah yang mengintegrasikan pendidikan Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) ke dalam beberapa mata pelajaran.

“Dimana di dalamnya terdapat Pojok Kependudukan sebagai salah satu sumber belajar peserta didik,” katanya.

Menurut Ashnaf, hal ini sekaligus sebagai upaya pembentukan Generasi Berencana yang peduli dengan fenomena kependudukan.

Sementara itu, Plt Koordinator BPKB, Kecamatan Sayung, Indri Astuti menjelaskan, materi kependudukan diintegrasikan dengan mata pelajaran sesuai dengan pokok bahasan.

“Sehingga bukan mata pelajaran baru, tidak menambah jam pelajaran, tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar namun justru mempertajam materi yang dibahas,” terangnya.

Indri menambahkan, program SSK menjadi wadah bagi program- program yang digulirkan BKKBN seperti PIK-R, GenRe goes to scholl, dan lain lain.

“Sehingga diharapkan dapat berjalan berkesinambungan dan simultan,” harapnya. (Adv/Zaidi-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: