Pupuk Organik Bersubsidi Kurang Diminati, Ini Kata Petani!

Pupuk organik bersubsidi milik petani yang berada di areal persawahan. (Foto : Iwan)

Karanganyar (wartajateng.id) − Sebagian petani tidak berminat untuk menggunakan pupuk organik bersubsidi yang  saat ini peredarannya kembali normal. Kapasitas penggunaan pupuk organik bersubsidi lebih kecil jika dibandingkan jenis pupuk bersubsidi lainnya seperti Urea, ZA, ataupun Phonska.

Hal tersebut diakui petani pemakai pupuk sekaligus pemilik kios pupuk bersubsidi di Kebakkramat Karanganyar, kepada wartajateng.id, Jumat (18/9/2020).

Ia mengaku, saat ini mengalami sepi pembeli meskipun sudah memasuki musim tanan tahun ini.

Sementara, salah satu petani  warga Dusun Kebak Jetis, Desa Nangsri, kecamatan kebakramat  Sumarno mengungkapkan, bahwa pupuk organik membuat tanah lahan pertanian lebih bagus. Hanya saja,penggunaan pupuk organik lebih cepat menumbuhkan rumput, bersamaan dengan tanaman padi.

“Untuk tahap awal, saya memilih jenis pupuk lainnya. Setelah tanaman berusia lebih dari satu bulan, baru menggunakan pupuk organik. Kalau digunakan bersamaan, malah rumput lebih dulu tumbuh,” tuturnya.

“Kalau setelah tanam seperti ini, saya pakai Urea untuk pemupukan. Nanti kalau sudah 35 hari baru saya pakai yang organik,’’ ujar Sumarno.

Ninik, pemilih kios pupuk Sunarto di Nangsri, Kebakkramat mengatakan, pupuk organik tidak pernah bisa habis cepat dibanding jenis pupuk anorganik. Menurutnya, saat ini para petani lebih memilih Urea daripada jenis pupuk lainnya.

Untuk harga pupuk Phonska bersubsidi mencapai Rp 110 Ribu. Sementara ZA Rp 70 ribu dan Urea senilai Rp 90 ribu.

‘’Persediaan pupuk organik masih banyak. Beda dengan pupuk lainnya seperti Urea yang dicari-cari petani. Ini saja, pupuk Urea di kios saya sudah habis. Saya tinggal jual pupuk yang  non subsidi. Phonska non subsidi saya jual Rp 190 ribu,’’ ujar Ninik.  (Iwan-01).

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: